teen story

Catatan :

remake by Profesoridiot. Diberdayakan oleh Blogger.

Techonlogy

Label

  • Food Style
  • Journey The History
  • Kontak
  • Love Novel
  • People Daily
  • Teen Fiction
  • Teen Love
  • Teen Tech

About

  • Home

I know, I and you was on different way. you at solo now. you working as writer on journalism. But I hear your laugh to day at your story Instagram, that's sound like with your friends. Its be a touchable at my hearth to understand what is live to day.

And to day I attend the ceremony of The Decade Of Mafa, that event are being a flashback what is the achievement on 10 years behind. Its so pity if contacted with you, what i was to do for las 10 years, what the dream are nearly nor nothing ?

I actually want to solve about our relationship. It is just want to talking like as usually, The name of "usually" is near freaky to day. hmm


 



Watu Cuil

Sekilas dari jalan pulang setelah melihat pengrajin batik di Baska. Kisanak langsung mengambil jalan pulang melalui gang kecil di pasar tamanan, yang terdapat lintasan kereta usang di sebelah kanan dan dua buah pohon besar di sebelah kiri pasar sapi.
Melintasi ladang-ladang yang biasanya tersapu angin kencang, petir menyambar dan di sebelah dekat pasraman kisanak.
Sampai di pedukuhan daringan, bertemu seseorang yang tampak melihat-lihat batu. Dari kejauhan orang itu menyapa, bersenyum ramah. Melihat batu-batu lebih lanjut. Lalu menghampiri dan bersalaman. Rambut gimbalnya tak seseram senyumannya.
- "Saya dari Singosari, Kisanak. "
(Tampangnya yang berceria ramah, dan terselip beberapa lencana. Tampak ku kenal lencana-lencana ini. Takjelas, yang jelas ini dari berbagai daerah-daerah. Ada dari pesisir, Kadhiri, trowulan, dan sepertinya juga dari alas purwo. Ada juga dari bambu kecil.)
- Lantas Kisanak menjawab. "Wah, Kisanak ada Uwa di sana. Dekat Arjosari kebarat. Ngijo."
- Ngijo ? (orang ini mulai terheran)
- Ya .. Ada jalan turunan sebelah kanan. (Kisanak melanjutkan pembicaraan)
- Wah, saya di Ngenep, Kisanak.
(Ternyata orang ini berdekatan dengan rumah Uwa Kisanak, yang rumahnya terdapat banyak wawayangan).
Lanjut bercerita orang ini meminta izin untuk membakar dupa.
- Boleh saya bakar dupa disini, kisanak ?
- Kalau ini batu tiruan, Mas. lebih baik disana saja. (Lalu kisanak menunjuk dibalik rumah tak berpenghuni itu)
Setelah itu, orang ini mengikat kudanya pada pohon jambu. Kisanak memastikan bahwa kuda dibiarkan disana, aman.
Lalu kami berjalan kaki sambil beberapa langkah bercerita. Kisanak menceritakan kalau di negeri ini terdapat ribuan batu yang ditinggalkan oleh leluhur. Kalau kakanda berjalan kaki dari sini sampai ke ujung timur sana, maka akan terus menemui batu tinggalan. Disetiap wanua negeri ini pasti terdapat tinggalan batu leluhur. Begitu kisanak menjelaskan ke orang ini.
Kami telah sampai di Batu Pandusa, salah satu batu tinggalan leluhur yang terdiri dari bongkahan batu yang ditompang oleh batuan kecil. Orang ini langsung melepas alas kakinya. Begitu khidmat, bersimpuh dan membakar dupa.
Beberapa menit orang ini bercengkrama dengan batu, entah apa yang obrolkannya.
- "Ini batu berharga sekali kisanak." (begitu jelasnya).
Langsung memakai alas kaki lagi, lalu melanjutkan langkah kaki kesebelahnya.
Cakrawala mulai membuka dan siup-siup argopuro yang tertutup awan, terlihat.
Rerumput yang menghijau berkemilap, orang ini kembali melepas alas kakinya.
Melangkahkan kaki tanpa alas kaki, menuju batu nyai.
- "Gunung disebelah sana Gunung apa ? "(orang itu).
- "Itu Gunung Argopuro. " (Kisanak menjawab)
Lalu, bersimpuh.
Dengan khidmat.
Membakar dupa.
Gawai kisanak, mati (batrai habis jadi tak dapat merekam)
Dupa sudah mengempul, membuat harum udara. Dan langit perlahan menetes, gerimis kecil-kecil tapi seingat kisanak tak ada angin. Gerimisnya sangat kecil.
Dan Lintasan alam semesta sepertinya perlahan membuka.
Orang itu tetap khidmat, bercengkrama dalam simpuhnya.
Terus beberapa menit. Burung-burung mulai berbunyi. Melihat lingkungan sekitar, tampaknya tempat ini yang hanya gerimis.
Orang itu mulai mengangkat badannya, dan mulai berjalan kaki menaruh dupa ke berbagai sudut petak tanah ini yang terdapat banyak batu tinggalan leluhur.
Bau cenda sudah menyelimut badan dan udara.
Orang itu tetap khidmat dan bercengkrama dengan batu.
Lalu menghampiri kisanak, duduk disamping.
Setelah itu, gerimis mulai mereda.
- "Batu ini sangat luar biasa kisanak. Syukurlah masih terjaga, masih ada."
- "Batu ini awalnya dipindahkan kakanda. Hanya batu yang membentuk persegi dan batu pandusa itu yang tak dipindahkan, kalau batu nyai dipindahkan dari sebelah barat dekat pohon kecil itu, gara-gara orang asing".
- "iyaa, batu itu juga sepertinya dipindahkan" (nampaknya orang ini tahu)
Orang ini menceritakan dirinya bahwa sedang berkelana, sebelumnya dari tawangalun lalu melewati Gumitir. Beliau bersamadi dan belum makan. Pernah ditawari makan oleh orang disana, tetapi menolak karena takut tak bisa melanjutkan perjalanan. Beliau ingin ke Alas Purwo namun belum waktunya.
- "Ini Batu Sangat luar biasa kisanak, ini bukan sembarang batu. Jika dimalam hari terkena angin akan keluar asap. Hanya batu-batu khusus yang diperuntukkan seperti ini. Ini batu berasal dari perut bumi lalu membatu.
Batu-batu ini langsung membatu dari dalam gunung isi perut bumi yang sangat panas.
Dari bongkahan batu, lalu perlahan (cuil) patah menjadi batu kecil.
Sama hal nya manusia yang merupakan bagian kecil dari bumi ini, kisanak.
hingga ini menjadi manifestasi atas diri kita terhadap alam semesta.
Inilah sesuatu yang bisa menjadi portal Alam Semesta.
Tetapi beberapa manusia tidak bisa memaknai arti ini kisanak.
Dikadhiri saja candi diruntuhkan diratakan.
Sehingga, hamba hanya bisa mengeluh dalam hati.
Wahai Ibu Pertiwi maafkanlah anak-anakmu ini."
Begitu kakanda ini bercerita, dari kejahuan burung perkutut tampak bertengger dan berbunyi.
Tak sadar ternyata gerimis telah usai.
"Lihat itu kisanak, Ada burung perkutut. Jangan kau bunuh burung seperti itu. Karena biasanya sukma leluhur bersama mereka"
Sambil menimati bunyi suara perkutut dan burung-burang lain yang saling bersahut-sahutan, orang ini lanjut bercerita.
Kemudian bersedekah 20 kepeng.
Dan melanjutkan perjalanan bersama kudanya.


NEGERI MESJID , Eps. 1


 Hai Pak Tua, Apakah tak dapat kabar paman di seberang sana, Yut Boba sendang ramai-ramainya dibicarakan orang ?


Wah, kenapa..(?) kenapa kisanak ?, hamba hanya sibuk memilih dan memilah biji kacang panjang untuk disempai besok. Jadi tak dapat kabar.


Ladang miliknya yang berada di wannua luwih sedang ditawar saudagar kaya raya, hendak ditukar dengan perhiasan emas dan permata, sampai – sampai perhiasan ini dipikul oleh seratus kereta lembu dan jadi tontonan warga.


Lantas kenapa kisanak ? (tanya Pak Tua dengan suaranya yang pelan dan serak-serak)


Yut Boba ini tidak menghendaki tawaran itu. Yut Boba ingin tanahnya diwakaf untuk dijadikan mesjid. Sungguh mulia Yut Boba ini, orang -orang pun kagum dengannya, saya pun juga. Sangat jarang seperti Yut Boba ini.


Wah Kisanak.. (Suara Pak Tua)


Seperti itu Pak Tua, banyak orang yang kagum. Hatinya sanggat dermawan. Padahal ladang yang ia miliki ditawar perhiasan sebanyak itu.


Begini Kisanak.. Harus Kisanak ingat.. Mesjid itu memang banyak yang mengganggap sebagai Rumah Tuhan, tapi Mesjid belum tentu menjadi Rumah bagi para orang-orang yang sedang tidak memiliki rumah. Coba Kisanak lihat musafir-musafir yang kebetulan tidak menemui rumah untuk menginap di malam hari, kadang mereka diusir di Mesjid. Kalaupun boleh menginap, tempatnya di emperan dan kedinginan. Kisanak harus ingat ini.


Baik, saya akan ingat ini, Pak Tua. (sambil menunduk)



(*Ki Gendeng Pamungkas)

 Aku Titik, kamu Garis dan dia Kurva



kamu memang Garis
yang tak pernah
aku pahami arahnya.


yang tak bisa aku mengerti
dari apa maksud
Garis-garis yang kamu buat.


semakin Garis berkumpul
menjadi Garis-garis,
seakan menambah artian
itu menjadi Teka dan Teki.


sambil lalu, aku teringat
dari awal bulan februari.


dimana yang biasanya
rasa Sepi berkumbul
menjadi tanda tanya
yang ditanyakan


dalam Sisi Ruang
yang sama

melihat Garis-garis di langit
yang kemudian terputus
menjadi Titik-titik air


Diorama dalam awal pagi,
bulan februari.


Walau Titik-titik itu
terpecah lagi menjadi
Titik yang lebih kecil.


Karena benturan
dari permukaan bumi
yang berbeda-beda.


Akan tetapi,
moment yang paling aku kagumi
ketika Garis-garis hujan terputus
oleh deru angin yang tak terbatas.


Terlihat Garis-garismu
itu menyudut membentuk arah
yang ingin kamu sampaikan.



Walau mulai aku bisa pahami 

tapi ..



Entah ..
aku tak tahu.


apakah bisa
menjadi Titik 
yang Pantas untukmu 


Entah,
apakah layak jika Titik
disandingkan oleh Garis




Aku hanya ingin berjalan denganmu
tanpa harus tahu
kemana tujuannya.

Jangan tanyakan kenapa,


Aku hanya yakin
kita akan baik-baik saja.


Maafkan hati yang labil
atas hubungan kita
yang rapuh ini.


Memang seharunya
tidak ada kata
KITA.


Karena "KITA" adalah
jalan menuju sia-sia.











(Note : beberapa bait poem ini ditulis di bulan februari tahun 2018 sewaktu melihat deru hujan pagi hari sembari di wifi corner wifi.id, bait bait poem kemudian terkumpul pada tahun 2019, lalu teracuhkan pada tahun 2020, hingga dirajut lagi dan dipuisikan tahun 2021 di acara "Puisi Kesorean - enamlima.space", sesungguhnya poem ini ada tiga sesi, sesi pertama membahas "Titik", kedua "Garis" dan Ketiga "Kurva". Tetapi catatan tulisannya sedang berpencar (hilang) dan sepertinya harus ditulis lagi. )








The Quotes


" Sometimes I keep my feeling to myself because its hard to find someone who understands ".


" The true mark of maturity is when somebody hurts you and you try to understand their situation instead of trying to hurt them back ".


" Sometimes you just need a break to be alone and to figure everything out ".


" Don't let a bad day make you feel like you have a bad life ".


" True love requires faith, trust and loyalty. Not chocolate, flower and expensive ".


" I wish I could read your mind to know what you really think of me ".


" The best feeling in the world is knowing that you actually mean something to someone ".


" Sometimes we waste to much time thinking about someone who doesn't even think about us for a second ".


" A true relationship is when you can tell each other anything and everthing. No secret and No lies ".

" Don't waste your time stressing about things you can't change ".




Sangat bingung saat menjejaki tapak kaki di nagari ini,

tatkala ingin mencari ikan di penghujung waduk nagari ini,

terpampang hubaya hubaya yang dituliskan pada kain kaku bertulis "dilarang menebar ikan disini"..


Lantas ku tanya Ki Pangku, Sang ksatria legendaris yang telah pensiun. Dia lah yang mengantarkan ku sampai kesini.

" Ki, kenapa kita tidak boleh menebar ikan disini (?)"

"Tak Tahu Kisanak, mungkin sudah peraturannya begitu"..

Lantas Ki Pangku mengajak langsung ke tepi waduk, airnya cukup jernih namun sepertinya dangkal.. Sepanjang tepi ujung permukaan air waduk ini diselimuti enceng gondok,

air waduk berselimuti hiasan hijau alami dan beberapa gerak-gerik air.


Kami berdua mulai mempersiapkan 

perkakas untuk melakukan penjalaan ini.

Tongkat besi, seutas tali dan kail kuningan. Sudah ada di tangan.


Ki Pangku menunjuk-nunjuk ke arah enceng gondok yang telah dibuat kubangan, katanya di sana tempat yang ada ikan.


Hamba ada di sebelah selatan sedangkan Ki Pangku ada di sebelah Utara.


Nampaknya Ki Pangku mulai sibuk dengan gawainya. hanya berangguk-angguk dan memainkan tongkat yang dipegannya.


Hamba mulai melempar benang yang sebelumnya diikat sebuah cacing kecil, tampak disebelah agak menjorok ke tengah ada seekor ikan yang lumayan besar, warna sisik putih ke merah-merahan. Bukan malah memakan umpan yang telah dipasangan, ikan menjauh menolak untuk bercengkrama dengan umpan yang telah disiapkan. Tampaknya ia enggan, mungkin belum saling mengenal saja.


Karena ikan menjauh menjorok ke tengah, melampaui jarak yang bisa dikenai. Maka, Hamba ingin ambil tongkat besi lainnya yang lebih panjang, supaya ikan dapat mudah digapai.


Perlahan melangkah agak ke utara untuk meninjau perkakas, mengambil tongkat besi lainnya yang lebih panjang di keranjang.


Ki Pangku masih saja sibuk, sekarang keberadaannya lebih dekat, ada disebelah kanan hamba.

Katanya ada ikan besar, sapa Ki Pangku yang mulai kegirangan.


Tadi hamba lihat ikan juga, tapi ukurannya kecil, seperti jari kelingking. Umpan di ujung kail dicumbunya tetapi tak sampai bisa ditarik benang karena tak menyangkut pada cucuk ikan itu.


Hamba tetap sibuk dengan mempersiapkan umpan pada kail.

menali benang-benang dengan jeli nan teliti agar benang tak putus saat nanti.


Ki Pangku terus menggerak-gerakkan tongkat keatas-kebawah, Ikan incarannya tak kunjung didapat.


Hamba masih menali dengan seksama. Hamba lihat dari kejahuan di hujung tepi barat waduk, seseorang yang memikul jerami dengan karung bawaannya.

"Oh mungkin, orang sini" dalam hati berbicara.


Tiba-Tiba, berteriak. " Hey ! Ikannya Jangan dipancing, kemarin baru saja ikan ditebar".


Ki Pangku mulai mengerut, hamba pun juga.

Ki Pangku juga menyorak " Ampun Paman !!! Maaf, kami hanya ingin menjala ikan kecil-kecil"..

Langsung seketika itu pun, menarik benangnya dan berkemas-kemas.


Orang yang dari kejauhan tadi mulai mendekat, dan menghampiri kami.


" Sudah dari tadi ada yang menjala disini, kemarin ikan baru ditebar. Ikan yang ditebar besar-besar. Tadi ada yang mendapat 4 ekor, saya langsung suruh pulang" (penjelasan orang itu yang tampak lesu)


"Saya lupa memberi woro-woro, masih dipersiapkan kemarin belum sempat, tidak ada waktu. Kemarin orang-orang dari prasraman yang menebar ikan-ikan besar ini. Tampaknya lebih baik saudara ke sungai sebelah disana, ada banyak ikannya" (lanjut orang itu).


"Kemarin, kami kemari. Memancing ikan-ikan kecil. Saya tak tahu. saya lebih baik mengurungkan niat saja tidak apa-apa, dari ada apa-apanya nanti kedepan, Maaf sekali lagi Paman." Sambut Ki Pangku.


Kami berdua langsung berkemas. Bergegas dan menaiki kuda.


"Kau tak Curiga Ki ?, mana ada orang Prasraman memelihara ikan ?", suara hamba yang berselang-seling dengan suara-suara batu yang diijak kaki kuda.


" Entah, Saya Tak tahu. Mari mencari tempat lain saja Kisanak". Jawaban Ki Mangku, sambil memacu kudanya.


Hamba masih memikirkan ada hal apa, semenjak kapan orang prasraman memelihara ikan(?), apalagi tujuannya untuk dimakan, sungguh sangat terasa aneh. (Tanya dalam hati).


Kami menuruni perbatasan, melewati sungai kecil di seberang untuk menuju sungai yang lebih besar. Ki Pangku, terus memacu Kudanya dan menujukkan jalan.


Berbelok ke utara dan Ke Timur, melewati pengrajin bata, melewati surau kecil, melewati tegal sari bumi, dan suara kaki kuda menginjak batu kian terdengar.


Lumayan Jauh, deru air sungai sudah terasa.


Kami menuruni dengan perlahan.

Bertemu dua pemuda yang selesai menjala, katanya tak ada ikan disini.


Kami telah lelah berkuda.


"Sudah tak ada tempat lagi Kisanak, disini saja" Ucap Ki Pangku.


Kuda pun kami tali, lalu diistirahatkan.

Perlahan kami membongkar keranjang, lalu menyusuri tepi sungai.


Arus sungai kian menemani. Kail dan penjalaan berlomba dengan senja hari, tampaknya sudah ingin malam, dan sinar akan tenggelam.


Kami hanya menatapi arus sungai dan benang-benang, masih berpikir juga tentang apa yang diucapkan orang diwaduk itu yang mencari jerami.


Hanya bisa menikmati ini, Arus Sungai yang kian semu. Malam kian ingin bertemu, Ikan - Ikan tak nampak menyapa tamu.


Sepertinya, nagari ini sudah jauh berubah. Sedari dulu pernah kesini.


Hamba terus menikmati arus sungai, suasana ini. Sembari membaca kitab yang tertunda untuk dibaca..



Keberadaan Cerita Rakyat memang membuat bertanya-tanya, seperti pada Misteri Gua Macan Klabang. Gua ini berada di Desa Karang Anyar, dusun Durin, Kecamatan Klabang. Gua ini terletak pada tebing yang menjulang ke atas, jadi harus mendaki dengan mengais-ngais tebing yang lumayan terjal. Menurut cerita dari warga sekitar, Gua ini dapat menembus ke salah satu tempat dengan cepat pada bagian gua ini. Sedangkan menurut warga, Kenapa Gua ini dinamai dengan nama “Macan” karena dahulunya pada Gua ini terdapat sesosok Macan yang hilir mudik keluar dari lubang ruang Gua ini. Akan tetapi, saat ini Gua tersebut tertutup dan ditutup oleh lempengan seng, hal ini bertujuan agar tak ada yang masuk kesana. Menurut simpang siur lanjutan cerita yang ada, kenapa gua tersebut ditutup karena adanya sesosok ular yang sangat besar mendiami di dalam gua. Karena masih belum puas atas hal diatas mimin mencari informasi lebih lanjut. Sampailah bertemu dengan Lek Muhammad salah satu juru kunci Gua ini, pasalnya beliau merupakan salah satu Juru Pelestari situs Cagar budaya di Kecamatan Klabang. Menurut penjelasannya dari cerita yang turun temurun ia dapatkan. Pada zaman dulu, gua tersebut difungsikan untuk jalan pintas menuju Salak, melewati celah-celah Gua. Berkaitan dengan adanya sesosok Macan Lek Muhummad membenarkan adanya hal tersebut. Dahulu ada orang yang memasuki Gua tersebut kemudian dipertengahan jalan ditemuinya seekor Macan, akan tetapi Macan tersebut toleran, tidak arogan dan cenderung santai, lalu para pejalan berada di belakang Macan Tersebut sambil melanjutkan perjalanan.



Lanjut bercerita, Lek Muhammad menginformasikan bahwa pada zaman penjajahan. Gua tersebut dipergunakan untuk para pejuang mengungsi ke salak dengan menembus batas gua pada celah gua, sebab jika melalui jalan darat maka akan dihadang oleh para penjajah belanda. Akan tetapi Jalur Gua tersebut sudah tidak bisa dilalui, untuk berdiri saja sulit apalagi merangkak. Lorong Gua ini tertutupi oleh tanah. Akan tetapi masih ada hal yang membuat penasaran yaitu asal – muasal Gua ini difungsikan. Sebab, pada tiap ujung pintu gua terdapat batu yang cenderung sama. Yaitu Batu Punden Berundak. Jenis Batu megalitik ini diduga mempunyai ciri yang sama dan terletak pada posisi sama yang khas yaitu terletak pada pintu gua di masing-masing sisi.




Foto nomor 3 merupakan Batu punden berundak yang terdapat pada depan pintu gua di dusun Durin seperti yang diceritakan Lek Muhammad.






Sedangkan Foto terakhir merupakan punden berundak yang berada di dusun Salak Desa Taal, letak pintu keluar dari Gua tersebut. Kesamaan hal ini patut dipertanyaakan, Apakah ada latarbelakang tradisi megalitik pada Gua Macan dizaman dahulu (?) sehingga terdapat batu – batu punden berundak pada tiap sisi depan gua. Dan Apakah alasan yang tepat, Kenapa Gua ini tertutup dan dilarang keras untuk masuk kesana ?


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR

Follow us

POPULAR POSTS

  • Watu Cuil
      Watu Cuil Sekilas dari jalan pulang setelah melihat pengrajin batik di Baska. Kisanak langsung mengambil jalan pulang melalui gang kecil d...
  • Situs Tali Rafia Upaya Menjaga Situs Megalitikum yang Dianak Tirikan
    Situs Tali Rafia Upaya Menjaga Situs Megalitikum yang Dianak Tirikan SaveOurSites Rafia untuk Bondowoso Hal yang harus ditekank...
  • Overthinking with the ancient java and maduraise manuscript
    A little piece to understand about the literacy of the manuscript which is on java and madhura's ancient language.  It is hard to think ...
  • Misteri Gua Macan Klabang
    Keberadaan Cerita Rakyat memang membuat bertanya-tanya, seperti pada Misteri Gua Macan Klabang. Gua ini berada di Desa Karang Anyar, dusun D...
  • what is the decade for me and you ?
    I know, I and you was on different way. you at solo now. you working as writer on journalism. But I hear your laugh to day at your story Ins...
  • GADIS - GADIS KARIR
    GADIS - GADIS KARIR Kenapa diberi judul gadis - gadis karir ?, itu pertanyaan yang bagus untuk dipertanyakan. Gadis - gadis ini d...
  • [Kisanak Memanggil] : Negeri Mesjid, Eps. 1
    NEGERI MESJID , Eps. 1  Hai Pak Tua, Apakah tak dapat kabar paman di seberang sana, Yut Boba sendang ramai-ramainya dibicarakan orang ? ...
  • Ignition At Surabaya
    Alhamdulillah kemarin bisa ikut hadir di Ignition 1000startupdigital .. Yang sebelumnya dari tahun kemaren ingin banget gabung dalam...

Categories

  • Food Style
  • Journey The History
  • Kontak
  • Love Novel
  • People Daily
  • Teen Fiction
  • Teen Love
  • Teen Tech

Advertisement

Haii Tempat ini adalah tempat Berbagi cerita yang menarik dan tentang ceritaku dalam ku menjalani hari - hari yang penuh warna antara tangis dan bahagiaku dengan dikemas dalam tulisanku, Selamat Menikmati :)

Laporkan Penyalahgunaan

Kontributor

  • Ki Gendeng Pamungkas
  • Meq Faith
  • Unknown
  • Unknown
  • Unknown

Popular Posts

  • Watu Cuil
      Watu Cuil Sekilas dari jalan pulang setelah melihat pengrajin batik di Baska. Kisanak langsung mengambil jalan pulang melalui gang kecil d...
  • Situs Tali Rafia Upaya Menjaga Situs Megalitikum yang Dianak Tirikan
    Situs Tali Rafia Upaya Menjaga Situs Megalitikum yang Dianak Tirikan SaveOurSites Rafia untuk Bondowoso Hal yang harus ditekank...
  • Overthinking with the ancient java and maduraise manuscript
    A little piece to understand about the literacy of the manuscript which is on java and madhura's ancient language.  It is hard to think ...
  • Misteri Gua Macan Klabang
    Keberadaan Cerita Rakyat memang membuat bertanya-tanya, seperti pada Misteri Gua Macan Klabang. Gua ini berada di Desa Karang Anyar, dusun D...
  • what is the decade for me and you ?
    I know, I and you was on different way. you at solo now. you working as writer on journalism. But I hear your laugh to day at your story Ins...
  • GADIS - GADIS KARIR
    GADIS - GADIS KARIR Kenapa diberi judul gadis - gadis karir ?, itu pertanyaan yang bagus untuk dipertanyakan. Gadis - gadis ini d...
  • [Kisanak Memanggil] : Negeri Mesjid, Eps. 1
    NEGERI MESJID , Eps. 1  Hai Pak Tua, Apakah tak dapat kabar paman di seberang sana, Yut Boba sendang ramai-ramainya dibicarakan orang ? ...
  • Ignition At Surabaya
    Alhamdulillah kemarin bisa ikut hadir di Ignition 1000startupdigital .. Yang sebelumnya dari tahun kemaren ingin banget gabung dalam...

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Mei 2024 (1)
  • Maret 2023 (1)
  • Juli 2022 (1)
  • Maret 2022 (1)
  • Desember 2021 (1)
  • Oktober 2021 (3)
  • November 2020 (1)
  • Januari 2020 (1)
  • Mei 2018 (1)
  • September 2017 (2)
  • Januari 2017 (1)
  • Desember 2016 (1)
  • November 2016 (3)
  • Agustus 2016 (1)
  • Mei 2016 (4)
  • April 2016 (3)
  • Desember 2015 (1)
  • Juni 2014 (1)

Subscribe Here

Labels

  • Food Style
  • Journey The History
  • Kontak
  • Love Novel
  • People Daily
  • Teen Fiction
  • Teen Love
  • Teen Tech

Sponsor

  • Home

Popular Posts

  • Watu Cuil
      Watu Cuil Sekilas dari jalan pulang setelah melihat pengrajin batik di Baska. Kisanak langsung mengambil jalan pulang melalui gang kecil d...
  • Situs Tali Rafia Upaya Menjaga Situs Megalitikum yang Dianak Tirikan
    Situs Tali Rafia Upaya Menjaga Situs Megalitikum yang Dianak Tirikan SaveOurSites Rafia untuk Bondowoso Hal yang harus ditekank...
  • Overthinking with the ancient java and maduraise manuscript
    A little piece to understand about the literacy of the manuscript which is on java and madhura's ancient language.  It is hard to think ...
  • Misteri Gua Macan Klabang
    Keberadaan Cerita Rakyat memang membuat bertanya-tanya, seperti pada Misteri Gua Macan Klabang. Gua ini berada di Desa Karang Anyar, dusun D...
  • what is the decade for me and you ?
    I know, I and you was on different way. you at solo now. you working as writer on journalism. But I hear your laugh to day at your story Ins...
  • GADIS - GADIS KARIR
    GADIS - GADIS KARIR Kenapa diberi judul gadis - gadis karir ?, itu pertanyaan yang bagus untuk dipertanyakan. Gadis - gadis ini d...
  • [Kisanak Memanggil] : Negeri Mesjid, Eps. 1
    NEGERI MESJID , Eps. 1  Hai Pak Tua, Apakah tak dapat kabar paman di seberang sana, Yut Boba sendang ramai-ramainya dibicarakan orang ? ...
  • Ignition At Surabaya
    Alhamdulillah kemarin bisa ikut hadir di Ignition 1000startupdigital .. Yang sebelumnya dari tahun kemaren ingin banget gabung dalam...

About Me

Popular Posts

  • Watu Cuil
      Watu Cuil Sekilas dari jalan pulang setelah melihat pengrajin batik di Baska. Kisanak langsung mengambil jalan pulang melalui gang kecil d...
  • Situs Tali Rafia Upaya Menjaga Situs Megalitikum yang Dianak Tirikan
    Situs Tali Rafia Upaya Menjaga Situs Megalitikum yang Dianak Tirikan SaveOurSites Rafia untuk Bondowoso Hal yang harus ditekank...
  • Overthinking with the ancient java and maduraise manuscript
    A little piece to understand about the literacy of the manuscript which is on java and madhura's ancient language.  It is hard to think ...

Advertisement

Copyright © 2016 teen story. Created by OddThemes